Kronologi Wakaf Rumah PAN ke Muhammadiyah oleh SB

Jakarta - Gedung berlantai 7 di Jalan Warung Buncit Raya Jakarta Selatan yang kini dijadikan kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN) ramai dibicarakan

Kualitas Nazhir Jadi Prioritas
Ketua BWI: Air Bersih dan Sanitasi Tanggung Jawab Kita Semua
Fuad Wardi Kembangkan Wakaf Ahli 2,5 Ha

Jakarta – Gedung berlantai 7 di Jalan Warung Buncit Raya Jakarta Selatan yang kini dijadikan kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN) ramai dibicarakan. Ini karena gedung ini diwakafkan oleh si empunya, Soetrisno Bachir (SB), mantan ketua umum DPP PAN, ke PP Muhammadiyah.

Dengan pewakafan gedung ini ke PP Muhammadiyah, pertanyaan yang muncul ke manakah DPP PAN akan pindah kantor. Hingga saat ini, DPP PAN dan Muhammadiyah masih terus melakukan komunikasi untuk membahas solusi terbaik terkait gedung ini.

Berikut kronologi pemberian wakaf gedung yang sudah dipakai DPP PAN selama enam tahun ini seperti disampaikan Mustofa Nahrawardaya, orang dekat SB, kepada detikcom, Senin (4/6/2012):

2006-2010

Gedung itu semula dipakai SB saat menjadi ketua umum PAN periode 2005-2010. SB berkantor di lantai 7, sisanya digunakan untuk kantor DPP PAN dan kantor pegawai eksekutif DPP PAN. SB pernah mengatakan akan menghibahkan aset gedung itu kepada PAN.

Namun, kemudian SB tak bisa melakukan niat baiknya karena terbentur UU Pemilu. Dalam UU Pemilu, disebutkan bahwa sumbangan perseorangan diperbolehkan maksimal hanya Rp 1 miliar. Maka, SB tidak bisa sumbangkan aset tersebut karena nilai asetnya jauh lebih dari Rp 1 miliar.

Karena terbentur aturan, maka dibentuklah Yayasan Amanat Bangsa (YAB) yang tugas pokoknya mengelola aset tersebut. SB, melalui YAB menyewakan aset tersebut sebesar Rp 1 (satu rupiah) per tahun. Sewa menyewa ini tak ada masalah.

Hingga habis masa kepemimpinan SB di PAN sebagai ketum, bahkan berganti ke Hatta Rajasa, sewa menyewa itu masih berlangsung.

2010

Pada Agustus 2010, tidak ada lagi pengurus DPP PAN yang memperpanjang sewa. Meski demikian, pihak SB tak mempersoalkannya.

Satu-satunya masalah, barangkali soal perawatan gedung. SB menganggap, aset yang dipinjamkannya itu tidak terawat hingga kini.

SB lalu berupaya memanfaatkan asetnya untuk kepentingan umat daripada tak dirawat seperti itu. SB akhirnya memilih mewakafkan ke Muhammadiyah.

April 2012

SB menemui Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin beserta pimpinan lainnya, untuk mengutarakan niatnya itu. Bertempat di Lantai 2 Gedung Dakwah Muhammadiyah Jalan Menteng Raya 62 Jakarta, SB mengungkapkan niatnya untuk mewakafkan aset 7 lantai kepada Muhammadiyah.

Meski begitu, Din Syamsuddin tidak segera umumkan ke publik, karena memang belum ada akad tertulis, termasuk belum terima sertifikat.

Juni 2012

Pada Jumat, 1 Juni 2012, pada pengajian rutin di halaman Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Din Syamsuddin akhirnya mengumumkannya. Pengumuman wakaf oleh Din itu disaksikan banyak tokoh, termasuk SB sendiri yang malam itu membacakan 1 puisinya.

Sejumlah tokoh lain hadir, antara lain Hadjriyanto Y Thohari, Mahfud MD, Farhan Hamid, AM Fatwa, Hasyim Muzadi, Jimly Ash-Shiddiqie, dan lain-lain. Mantan Ketua PP Muhammadiyah sekaligus mantan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sempat hadir, tetapi sudah meninggalkan acara saat pengumuman wakaf itu berlangsung.

Pada kesempatan itu, SB menyatakan ingin berkhidmat kepada Muhammadiyah dan ingin berjuang bersama Muhammadiyah.

Atas niat baik SB, Din Syamsuddin pun menerima dengan baik dan akan menggunakannya, apabila sertifikat sudah diurus/diterima.

“Semalam saya sudah berkomunikasi dengan Mas SB. Beliau, sangat berbahagia bisa mewakafkan asetnya untuk dakwah Muhammadiyah. Yang penting dirawat dimanfaatkan untuk kepentingan besar umat. Itu lebih baik,”ujar SB seperti ditirukan Mustofa.

Menurut Mustofa, gedung berlantai 7 itu bila sudah resmi diwakafkan ke Muhammadiyah akan dibuat sekolah bisnis, kemungkinan bernama Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM). (detik/asy/gah)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: