Tanah Wakaf untuk Wisata Sejarah

Bireuen - Di daerah Nanggroe Aceh Darussalam ada tanah wakaf yang dijadikan sebagai Wisata Sejarah. Tepatnya di Desa Menuasah Lueng, Kecamatan Samalan

Konsolidasi Bersama BWI Perwakilan
Pembangunan Tol Solo-Kertosono Terkendala Pembebasan Lahan Wakaf
Wakaf untuk Kantor dan Pendidikan

Bireuen – Di daerah Nanggroe Aceh Darussalam ada tanah wakaf yang dijadikan sebagai Wisata Sejarah. Tepatnya di Desa Menuasah Lueng, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Di atas tanah tersebut berdiri rumah adat Aceh yang dipercaya sebagai tempat tinggal Tun Sri Lanang (TSL) di abad ke-16, dan di sampingnya terdapat makam yang dipercaya sebagai makam Tun Sri Lanang, makam Syech Muda Bugeh, dan makam Pocut Meuligoe yang merupakan keturunan ke-5 TSL.

Situs-situs tersebut dijadikan wisata religi oleh wisatawan domestik, ada juga sebagian pengunjung datang dari Negeri Jiran. Tanah yang luasnya satu jektar itu merupakan wakaf dari Yayasan Tun Sri Lanang (TSL). Tanah tersebut diwakafkan agar dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Penyerahan wakaf yang dilakukan oleh Hj Pocut Haslinda selaku ahli waris ke-8 dan Ketua Yayasan Tun Sri Lanang ini belum lama terjadi, awal bulan Desember 2011, tepatnya tanggal 9. AKta Ikrar Wakaf diberikan langsung kepada Bupati Bireuen Nurdin Abdul Rachman pada saat acara peresmian Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Samalanga.

Tanah wakaf itu akan menjadi bagian dari Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Samalanga. Kawasan ini telah disetujui oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara di Samalanga.”Saya berjuang merintis ini demi generasi penerus agar mengenal sejarah leluhurnya. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah untuk mempererat persaudaraan kedua bangsa serumpun, Indonesia-Malaysia,” kata Haslinda.

Dalam kesempatan itu, secara khusus Pocut Haslinda meminta kepada Dato’ Seri Abdul Wahid Wan Hasan selaku keturunan TSL yang warga negara Malaysia agar sepulangnya nanti ke negerinya menyampaikan para keturunan TSL untuk berziarah ke makam TSL di Samalanga. “Kami berharap mereka juga ikut membangun kawasan TSL ini karena ini tidak hanya milik Indonesia, tapi juga milik Malaysia,” kata Haslinda.

Mendengar himbauan tersebut, Dato’ Seri Abdul Wahid Wan Hasan, dalam sambutannya, menyambut baik permintaan Pocut Haslinda. (kompas/au)

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: