Abu Umamah al-Bahili, yang bernama asli Sudaiy bin Ajlan, adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal sangat dermawan dan gemar bersedekah. Beliau tidak pernah menolak siapapun yang meminta bantuan, sekalipun yang dimilikinya hanya seulas bawang merah, sebutir kurma, atau sesuap makanan. Kebiasaan mulia ini lahir dari keyakinan mendalam bahwa setiap harta yang diberikan di jalan Allah akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.
Suatu hari, ketika harta Abu Umamah hanya tersisa tiga dinar, datanglah seorang pengemis meminta bantuan. Tanpa ragu, beliau memberikan satu dinar. Tidak lama kemudian datang pengemis kedua, dan beliau memberikan satu dinar lagi. Ketika pengemis ketiga datang, Abu Umamah menyerahkan dinar terakhir yang dimilikinya. Hamba sahaya perempuannya yang menyaksikan peristiwa itu marah dan menegur, “Wahai Abu Umamah, engkau tidak menyisakan sedikit pun untuk kami!”
Sikap dermawan Abu Umamah yang tulus ini sejalan dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Abu Umamah hanya terdiam dan kemudian berbaring untuk tidur siang. Saat adzan Ashar berkumandang, hamba sahaya itu membangunkannya. Beliau berangkat ke masjid, sementara sang hamba menyiapkan makan malam dan merapikan tempat tidur. Saat masuk kamar, ia terkejut menemukan uang emas berjumlah tiga ratus dinar di bawah kasur majikannya. Dalam hati ia berkata, “Tidak mungkin beliau memberikan seluruh hartanya kecuali karena sangat yakin dengan ganti yang akan datang dari Allah.”
Ketika Abu Umamah pulang setelah Isya dan melihat makanan telah tersedia, beliau tersenyum dan berkata, “Inilah kebaikan yang diberikan dari sisi-Nya.” Sang hamba kemudian menyampaikan tentang temuan uang tersebut. Abu Umamah yang heran menjawab bahwa ia tidak pernah menyimpan apapun. Setelah melihat sendiri uang itu, beliau bersyukur kepada Allah. Melihat keajaiban ini, sang hamba yang sebelumnya beragama Majusi atau Nasrani segera memotong tali tanda keyakinannya dan menyatakan masuk Islam.
Kisah ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Umamah sendiri dalam Shahih Muslim:
“Wahai anak Adam, jika engkau memberikan kelebihan (harta), maka itu baik bagimu. Jika engkau menahannya, maka itu buruk bagimu. Engkau tidak dicela jika menyimpan secukupnya. Mulailah dari orang yang engkau tanggung, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
Hadis ini menegaskan keutamaan berinfak dengan ikhlas.
Penulis : Tim Humas BWI
![]()

