BerandaArtikelKisah Teladan Sahabat Tolak Tunjangan Negara Pilih Perbanyak Sedekah

Kisah Teladan Sahabat Tolak Tunjangan Negara Pilih Perbanyak Sedekah

-

Kisah Abdullah bin Sa’di menjadi teladan abadi tentang ketulusan, kepasrahan, dan integritas seorang pejabat di era awal Islam. Di tengah posisi kepemimpinan yang kerap kali memicu rasa dahaga akan harta dan jabatan, ia tampil dengan pendirian teguh yang sangat langka. Sosoknya mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah mulia yang menuntut pengorbanan, bukan sarana untuk memperkaya diri sendiri.

Sebagai seorang pegawai yang bekerja di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Abdullah bin Sa’di mendedikasikan waktu dan tenaganya dengan penuh kesungguhan. Ia menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab dengan teliti tanpa pernah mengeluh, meskipun menyadari bahwa pekerjaan yang diembannya sangat berat. Dedikasi ini dilandasi oleh rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT atas kewajiban yang ditimpakan di atas pundaknya.

Suatu ketika, atas kerja keras dan loyalitasnya yang tinggi, Khalifah Umar bin Khattab memberikan tunjangan atau imbalan dari baitulmal sebagai bentuk apresiasi. Namun, tanggapan Abdullah bin Sa’di sungguh mengejutkan. Secara halus dan sopan, ia menolak pemberian tersebut dan menyatakan bahwa ia bekerja semata-mata mengharapkan keridaan Allah SWT, bukan imbalan materi dari manusia.

Penolakan tersebut tentu mengundang keheranan dari Khalifah Umar bin Khattab, mengingat penghasilan harian Abdullah bin Sa’di sendiri sebenarnya sangat pas-pasan. Kehidupan ekonominya terbilang jauh dari kata mewah, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya ia harus hidup dalam keterbatasan. Meski gajinya tak seberapa dan tenaganya terkuras habis untuk tugas negara, nuraninya tetap menolak mengambil harta tambahan yang ia rasakan belum menjadi hak mutlaknya.

Mendengar penolakan tersebut, Khalifah Umar bin Khattab kemudian mengingatkan sebuah nasehat penting yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau menjelaskan bahwa jika suatu rezeki atau harta datang tanpa pernah diminta, dicari dengan keserakahan, atau diharap-harapkan, maka harta tersebut halal untuk diterima. Tunjangan itu merupakan hak yang layak ia dapatkan atas kerja kerasnya, bukan sesuatu yang haram.

Setelah memahami nasihat tersebut, Abdullah bin Sa’di akhirnya bersedia menerima tunjangan dari khalifah. Namun, alih-alih menggunakannya untuk menumpuk kekayaan atau menaikkan standar hidup keluarganya, ia justru memilih untuk menyedekahkan sebagian besar harta tersebut kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Sikap dermawan dan kemuliaan hatinya ini membuktikan bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang disimpan, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan kepada sesama.

Penulis : Tim Humas BWI

Loading

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru