Wakaf ‘Cross Border’ Jalur Kereta Api Hejaz

Wakaf ‘Cross Border’ Jalur Kereta Api Hejaz  - Wakaf Salman Artikel Wakaf Cross Border Jalur Kereta Api Hejaz BWI - Wakaf ‘Cross Border’ Jalur Kereta Api Hejaz

INSPIRASI WAKAF – Ternyata, jalur kereta api Hejaz terwujud atas keindahan gotong royong wakaf atau sedekah jariyah lintas negara. Sejarah mencatat b

Luar Biasa! Hasil Wakaf Berkonstribusi Bantu Pengobatan Para Penderita Penyakit Mata
Jalan Panjang Gontor Dibesarkan Melalui Wakaf
Kisah Sedekah Kurma Abdurrahman bin Auf Membuat Kaya Raya

INSPIRASI WAKAF – Ternyata, jalur kereta api Hejaz terwujud atas keindahan gotong royong wakaf atau sedekah jariyah lintas negara.

Sejarah mencatat banyak kisah pembangunan masjid, bahkan pengelolaan tanah produktif dimulai oleh wakaf. Namun, barangkali masih sedikit Sahabat Wakaf yang mengetahui bahwa infrastruktur dunia juga dibangun oleh wakaf. Khususnya, dalam sektor transportasi.

Dilatarbelakangi Jauhnya Jarak Tempuh Ke Madinah

Sekitar abad ke-19, transportasi belum berkembang massif seperti sekarang. Semuanya belum serba mesin. Perjalanan masih diwarnai suara tapal kuda dan unta. Bayangkan, jika kita menunggang kuda dari Damaskus menuju Madinah. Butuh sekitar 40 hari waktu tempuh perjalanannya.

Selain waktu tempuh perjalanan yang begitu lama, muncul juga permasalahan lainnya. Banyak peziarah pada masa itu meninggal dunia di tengah padang pasir yang kering. Kenyataan ini menggerakkan keputusan agar perajalanan seperti itu nantinya bisa ditempuh dengan kereta api. Hanya dengan waktu 5 hari.

Oleh karena itu, Sultan Abdul Hamid II selaku pemimpin memerintahkan pembangunan jalur kereta api bernama Hejaz.

Wakaf Muslim Dunia dan Kebijakan Sultan Abdul Hamid II

Keputusan pembangunan jalur kereta api bernama Hejaz menarik perhatian dunia. Bahkan negara-negara Eropa membahasnya dalam surat kabar. Bukan hal mudah hingga akhirnya Kekaisaran Ottoman bisa membangun jalur kereta api ini.

Tantangan pembangunan jalur kereta api Hejaz diawali oleh kekurangan dana. Biaya proyek ternyata melebihi jumlah yang dianggarkan oleh Kekaisaran Ottoman. Hingga bank Eropa menawarkan pinjaman bahkan imbalan saham. Tetapi Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran ini.

Selanjutnya, dimulailah peran sedekah jariyah atau wakaf. Sultan Abdul Hamid II memulainya dengan menyumbangkan senilai 50.000 lira emas dari kekayaannya sendiri demi proyek jalur kereta api Hejaz. Ia juga mengumumkan gerakan ini kepada negara-negara Islam di dunia. Ia juga memberanikan diri untuk melakukan upaya mulai dari mengajak tentara Ottoman, hingga pemotongan gaji pegawai dengan pengembalian yang diatur setelah proyek selesai dan ekonomi pulih.

Upaya tersebut berhasil. Nyatanya, muslim dunia turut membantu pembangunan jalur kereta api Hejaz dengan wakafnya. Inilah praktik wakaf cross border. Praktik wakaf yang dilakukan melibatkan muslim dunia tanpa memandang batasan apapun.

Sebuah dokumen menyebutkan: Penggalangan dana juga dilakukan di Maroko, Aljazair, Tunisia, Afrika Selatan, di pulau Jawa, Cina, Sudan, Amerika Serikat, dan Amerika Latin, Balkan, Siprus, Austria-Hongaria, Inggris, Prancis, dan Jerman (Oyzuksel, 1989a)

Kehadiran jalur kereta api Hejaz dan fenomena wakaf cross border di antara muslim dunia menunjukkan betapa besarnya potensi kita. Iya, potensi Sahabat Wakaf Salman untuk membangun dunia dengan wakaf. Ini jugalah impian Wakaf Salman ITB. Dimulai dari wakaf sarana prasarana Masjid Salman ITB, kini wakaf berkembang menjadi sebuah skema untuk membangun dan mengoperasikan Rumah Sakit Salman di Soreang. Selengkapnya di sini.

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: