Tipologi Wakaf Produktif

Tipologi Wakaf Produktif  - images 3 - Tipologi Wakaf Produktif

Program zakat produktif dan wakaf produktif pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk meningkatkan nilai manfaat ekonomi dari zakat dan wakaf. Pa

Cara Mudah Wakaf Uang
RS Mata Wakaf Achmad Wardi Gelar Workshop untuk Puskesmas se-Kabupaten Serang
Wakaf Bisa Menjadi Sandaran Saat Hadapi Pandemi Covid-19

Program zakat produktif dan wakaf produktif pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk meningkatkan nilai manfaat ekonomi dari zakat dan wakaf. Pada zakat produktif, manfaat ekonomi ini seluruhnya akan dirasakan oleh para mustahik penerima manfaat program produktif, sehingga mereka memiliki kesempatan dan kemampuan untuk memiliki sumber penghasilan berkelanjutan, yang jika dikembangkan terus, berpotensi membuat mereka bertransformasi menjadi muzakki.

Adapun peran institusi amil zakat lebih kepada fasilitator dan akselerator program. Manfaat ekonomi yang dirasakan amil bersifat tidak langsung, karena amil telah mendapatkan haknya secara langsung dari zakat yang terkumpul sebesar seperdelapan. Manfaat tidak langsung ini artinya, dengan sebab program zakat produktif, maka perekonomian bisa ditingkatkan sehingga pengumpulan zakat juga berpotensi meningkat.

Sementara pada wakaf produktif, manfaat ekonomi ini akan dirasakan secara langsung oleh nazhir (pengelola aset wakaf) dan mauquf ‘alaih (penerima manfaat wakaf). Meski demikian, ada batasan manfaat yang diterima nazhir menurut aturan hukum di negara kita, yaitu maksimal sepuluh persen saja, sementara sisanya dapat dinikmati mauquf ‘alaih melalui berbagai program penyaluran, termasuk untuk keperluan pencadangan dan investasi.

Yang membedakan antara zakat produktif dengan wakaf produktif adalah pada fokus utamanya. Pada zakat produktif, fokus utamanya adalah pada mustahik. Artinya, yang memproduktifkan dan mengembangkan dana zakat tersebut adalah mustahiknya secara langsung. Peran amil adalah sebagai fasilitator yang melakukan pendampingan dan penguatan pada mustahik, baik pada aspek skil produksinya, kemampuan pemasarannya, kemampuan pengelolaan dana dan investasinya, hingga aspek spiritualitasnya.

Sementara pada wakaf produktif, fokus utamanya adalah pada asetnya atau harta wakafnya, dimana peran nazhir sangat sentral dalam mengembangkan harta wakaf yang dikelolanya. Jangan sampai nilai pokok harta wakafnya berkurang. Hasil dari pengembangan inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai hak nazhir dan hak mauquf alaih.

Tipologi wakaf produktif

Terkait wakaf produktif, maka sesungguhnya wakaf sejak hari pertama disyariatkan pada dasarnya telah bersifat produktif. Kisah tanah Khaibar Umar bin Khattab ra dan kisah sumur ruma Utsman bin Affan ra yang dikombinasikan dengan wakaf perkebunan kurma, pada dasarnya merupakan contoh wakaf produktif. Namun dalam konteks Indonesia, terdapat distorsi pemahaman wakaf sehingga seolah-olah wakaf produktif ini adalah terminologi baru dalam pengelolaan wakaf.

Terkait tipologi wakaf produktif ini, penulis membaginya menjadi dua tipologi saja, yaitu program produktif tradisional dan program produktif lanjutan. Pada tipologi pertama, harta wakaf diproduktifkan secara ekonomi melalui berbagai mekanisme dan pendekatan, baik pendekatan bisnis murni, kombinasi bisnis murni dan sosial, maupun kombinasi dengan produk keuangan syariah komersial. Namun demikian, pada tipologi ini belum ada sistim database dan alat ukur untuk menilai kinerja pengelolaan aset wakaf secara produktif. Data yang tersedia hanya data keuntungan usaha dan indikator keuangan lainnya. Sementara dampak program terhadap perekonomian secara umum, maupun terhadap mauquf ‘alaih secara khusus tidak tersedia. Misalnya, bagaimana dampak program wakaf produktif terhadap pembukaan lapangan kerja dan bagaimana dampak program terhadap peningkatan kesejahteraan mauquf ‘alaih, keduanya belum terekam dengan baik dalam laporan nazhir.

Adapun tipologi kedua, pada dasarnya merupakan kelanjutan dari tipologi pertama, namun lebih inovatif, adaptif terhadap perubahan, technology savy, dan yang terpenting, memiliki sejumlah alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai kinerja dan dampak dari program wakaf produktif yang dilakukan. Saat ini, BWI telah meluncurkan Indeks Wakaf Nasional yang diharapkan dapat menjadi alat ukur kinerja yang dimaksud, karena di dalamnya juga terdapat dimensi outcome dan impact, yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk menilai sejauh mana dampak dari keberadaan program wakaf produktif. Wallaahu a’lam.

 

Penulis   : Irfan Syauqi Beik (Ekonom Syariah FEM IPB dan Anggota BWI)
Sumber  : Harian Republika, 23 September 2021

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: