Kejujuran Abu Dujanah Bikin Nabi Muhammad Menangis

Kejujuran Abu Dujanah Bikin Nabi Muhammad Menangis  - 8bec945d684f46d7dac5cc8384078cce - Kejujuran Abu Dujanah Bikin Nabi Muhammad Menangis

Abu Dujanah Simak bin Kharasha merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat taat pada Allah SWT. Pria yang berasal dari kabilah Khazraj

Badan Wakaf Indonesia Prov. Jawa Barat Periode Tahun 2020-2023 Resmi Dilantik
Tingkatkan Wakaf Produktif, BWI dan BMS Kerjasama Investasi CWLS
BWI Gelar FGD Sertipikasi Rumah Ibadah di Atas Tanah Fasos Fasum

Abu Dujanah Simak bin Kharasha merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat taat pada Allah SWT. Pria yang berasal dari kabilah Khazraj ini hidup serba kekurangan.

Kisah hidupnya membekas di hati Rasulullah. Bahkan, Rasulullah pernah menangis setelah mendengar cerita kelaparan yang dialami keluarga Abu Dujanah.

Suatu hari, Rasulullah menegur Abu Dujanah karena setiap usai menjalankan ibadah salat subuh berjamaah, dia langsung pulang ke rumah. Abu Dujanah tak pernah menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah SWT sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi.

“Ya Rasulullah, kami punya satu alasan,” jawabnya.

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Nabi.

“Begini. Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami,” kata Abu Dujanah mulai bercerita.

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya,” sambungnya.

Abu Dujanah melanjutkan, suatu saat dia terlambat pulang ke rumah. Anaknya terbangun dan menemukan kurma tetangga yang jatuh dari pohonnya. Tak menunggu lama, sang anak langsung memakan kurma tersebut.

“Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam. Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan saya masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana,” jelasnya.

Abu Dujanah tak pernah membiarkan anaknya memakan kurma milik orang lain. Dia tak ingin makanan haram itu menyebabkan keluarganya mendapat siksaan pedih di akhirat kelak.

“Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Abu Dujanah mengatakannya sambil menggigil.

Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.”

Sifat Qanaahnya Membuat Rasulullah Berkaca-kaca

Pandangan mata Rasulullah langsung berkaca-kaca mendengar pengakuan Abu Dujanah. Butiran air mata mulianya berderai begitu deras.

Rasulullah mulai mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah. Abu Dujanah pun menjelaskan, pohon kurma tersebut milik seorang laki-laki munafik.

Tanpa basa-basi, Nabi Muhammad SAW mengundang pemilik pohon kurma. Rasulullah menawar pohon kurma dengan harga yang sangat tinggi.

“Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” kata Rasulullah.

Pria munafik itu lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Tiba-tiba, Abu Bakar as-Shiddiq datang. Ia menegaskan langsung melunasi pembayaran pohon kurma tersebut.

“Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya),” ujar Abu Bakar.

Pria munafik terlihat sangat kegirangan. Dia akhirnya menyerahkan pohon kurma secara simbolis kepada Abu Bakar. Selanjutnya Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah.

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: