Medan Siap Kembangkan Wakaf Produktif

Medan - Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara dan kota terbesar ketiga di Indonesia berpeluang mengembangkan potensi wakaf dan bisnis sos

Perwakilan BWI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara Terbentuk
Menggagas Nazhir Wakaf Air Minum
BI Analogikan Dana Haji dengan Wakaf

Medan – Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara dan kota terbesar ketiga di Indonesia berpeluang mengembangkan potensi wakaf dan bisnis sosial secara produktif. Wakaf dan bisnis sosial  sangat penting untuk dikembangkan karena bermanfaat untuk memberdayakan ekonomi masyarakat dan memperkuat ketahanan nasional.

Demikian disampaikan Herluadiansyah Pane selaku pendiri “Djalaluddin Pane Foundation” didampingi Debby F Pane pada peluncuran Djalaluddin Pane Foundation (DPF) sekaligus Seminar Bisnis Sosial dan Wakaf di Amaliun Convention Medan baru-baru ini.

Herluadiansyah yang juga anak dari Alm. Djalaluddin Pane menyampaikan tujuan terselenggaranya acara ini untuk membangkitkan kesadaran warga Sumut dalam mengoptimalkan dana wakaf sebagai sebuah potensi ekonomi yang dapat digarap secara profesional, dan menjadi jenjang karier yang layak diperhitungkan bagi generasi muda.

“Selain mengelola, DPF juga berupaya mencetak sumber daya insani calon pengelola wakaf yang profesional dan amanah melalui program pelatihan Djalaluddin Pane Social Business Entrepreneurship Academy,” jelasnya.

Dalam kesempatan peluncuran DPF diselenggarakan pula seminar bertajuk “Wakaf dan Bisnis Sosial: potensi ekonomi yang terabaikan, jenjang karier yang tersembunyi” mendatangkan sejumlah narasumber dari Jakarta, yakni Fathurrahman Djamil, Ketua Devisi Pengelolaan Wakaf Badan Wakaf Indonesia, dan Erie Sudewo selaku wirausaha bisnis sosial.

Fathurrahman mengemukakan, pengelolaan dana wakaf masa kini tidak saja harus dilakukan secara profesional, akan tetapi juga diselaraskan dengan budaya transparansi serta akuntabilitas. Indikator keberhasilan sebuah yayasan pengelola wakaf terletak pada kinerja usaha bisnis sosialnya.

“Semakin produktif wakafnya maka semakin besar pula peluanganya untuk menggangkat derajat kehidupan sosial masyarakat sekitarnya,”tuturnya.

Sementara itu, menurut Dewan Pembinan DPF  Wahfiudin Sakam, dibanding Jakarta dan Surabaya, Medan masih relatif tertinggal dalam hal pengolahan wakaf secara produktif serta bisnis-bisnis sosial, padahal potensi bisnis serta jumlah masyarakatnya mampu disini cukup besar.

“Ke depan kehadiran DPF dapat menjadi pionir pengelola wakaf, asalkan daerah yang mampu mengelola aset wakafnya secara kesinambungan dan melahirkan banyak manfaat bagi lingkunganya,” harap Wahfiudin yang juga ustadz ternama di ibukota.

Untuk itu, lanjut Erie Sudewo yang saat ini bekerja sebagai amil zakat atau pengelola lembaga sosial, sudah bukan lagi profesi kelas dua, banyak figur-figur sukses lahir dari lembaga ini. Mereka berpenghasilan secara profesional, namun harus terlatih jujur dan amanah. Turut hadir dalam acara itu para tokoh, pengusaha, pelajar dan kalangan mahasiswa. (wspd/prwra)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: